Menengok Tradisi Mendem Ari-Ari di Desa Palimanan Barat
CIREBON - Hari Raya Idul Adha menjadi momentum pelakasanaan tradisi mendem ari-ari yang terus dijalankan oleh penduduk Desa Palimanan Barat. Usai shalat sunnah idul adha dan bersilaturahmi, warga Desa Palimanan Barat tepatnya di Blok Pejagan Asem Pesantren berkumpul untuk melaksanakan prosesi mendem ari-ari bersama.
Sekitar pukul 08.40 WIB, para pemuda akan mengundang warga sambil membawa rebana dan segala kelengkapannya.
Warga pun berkumpul di halaman Masjid Assalafie Nurul Falah untuk ikut meramaikan tradisi tersebut. Selanjutnya, penabuh rebana akan berkeliling kampung menjemput orang tua yang akan ikut menguburkan ari-ari bersama.
Di rumah orang tua pemilik ari-ari akan ada seorang anak laki-laki yang bedandan layaknya perempuan sambil membawa pendil atau kendi berisi uang, bendera, serta dedaunan seperti daun andong dan daun pring kuning. Sesampainya rombongan warga di rumah penduduk pemilik ari-ari, warga diprbolehkan untuk memperebutkan isi dari pendil.
Di sinilah kemeriahan tradisi mendem ari-ari tercipta. Apalagi bukan hanya satu pendil melainkan setiap orang tua yang ingin mengikuti tradisi mendem ari-ari harus menyiapkan pendil tersebut.
Usai dijemput oleh rombongan rebana dan warga, orangtua yang akan menguburkan ari-ari akan ikut diarak menuju Masjid. Penguburan Ari-ari dilakukan di belakang Masjid Assalafie Nurul Falah. Di sana sudah disiapkan lubang-lubang tempat penguburan ari-ari.
Dipandu oleh Ustadzatau Kyai setempat orang tua yang mengubur ari-ari anaknya membaca Sholawat, Q. S. An-Nas, Q. S. Al-Falaq, dan Q. S. Al-Qadr yang dibaca sebanyak 3 kali kemudian dilanjut dengan membaca Q. S. Al-Fatihah hingga Ayat Kursi.
Terakhir, untuk kesehatan, keselamatan, dan kebaikan putra-putri memilik ari-ari, warga pun bersama-sama memanjatkan doa kepada Allah SWT. (infocrb)

